Menelusuri Jejak Anak Petai, Dari Hutan Belantara Warisan Leluhur hingga Menjadi Kelurahan Strategis Kota Prabumulih

monopolinews.com | Prabumulih – Di tengah laju pembangunan Kota Prabumulih yang terus bergerak maju, terdapat satu wilayah yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah masyarakat lokal, yakni Kelurahan Anak Petai, Kecamatan Prabumulih Utara.

Di balik nama yang sederhana, tersimpan kisah tentang hutan belantara, perkebunan rakyat, sistem pemerintahan marga, hingga transformasi menjadi salah satu kawasan pengembangan strategis Kota Prabumulih.

Berdasarkan penelusuran sejarah yang dihimpun dalam buku “Menelusuri Jejak Anak Petai: Dari Dusun Menjadi Kelurahan”, wilayah Anak Petai telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang terbentuknya Kota Prabumulih. Sejarahnya bahkan jauh lebih tua dibanding usia Kota Prabumulih itu sendiri.

Salah satu Penggagas Buku Sejarah Anak Petai, Harry Maradona, menjelaskan bahwa nama “Anak Petai” lahir dari kondisi alam wilayah tersebut pada masa lampau.

Saat itu kawasan yang kini menjadi permukiman warga masih berupa hamparan hutan dan perkebunan yang dipenuhi pohon petai.

Menurut cerita tutur yang diwariskan para sesepuh, pohon petai bukan sekadar tanaman biasa. Pohon tersebut sengaja ditanam oleh masyarakat sebagai penanda batas kebun dan lahan garapan para pendatang dari Dusun Prabumulih.

“Karena banyaknya pohon petai yang tumbuh dan dijadikan penanda batas kebun, masyarakat kemudian mengenal kawasan ini dengan nama Anak Petai. Nama itu bertahan hingga sekarang dan menjadi identitas wilayah yang tidak terpisahkan dari sejarah masyarakatnya,” ujar Harry Maradona.

Bagian dari Peradaban Marga Rambang

Sebelum lahirnya Kota Prabumulih, wilayah Anak Petai merupakan bagian dari sistem pemerintahan tradisional marga yang berlaku di wilayah Rambang dan berada dalam administrasi Kabupaten Muara Enim.

Pada masa itu kehidupan masyarakat sepenuhnya bertumpu pada sektor pertanian, perkebunan, serta hasil hutan. Aktivitas ekonomi berlangsung secara sederhana dengan mengandalkan tenaga manusia dan hewan ternak.

Jejak sejarah tersebut masih dapat ditelusuri melalui sejumlah nama kawasan yang hingga kini dikenal masyarakat, seperti Tanah Sepejam, Nibungan, Sebecat, Guhong Abang, Tanah Sehebol, Jambat Nipeh, Muare Tige, Bujok Seputang, Tebeng Beluday, hingga Guhong Pandak.

Kawasan-kawasan tersebut menjadi saksi perjalanan masyarakat yang membuka hutan, mengelola lahan, serta membangun kehidupan secara turun-temurun.

# Baca Juga :  DPRD Prabumulih Desak Pemkot Segera Koordinasi dengan Pusat Atasi Kelangkaan LPG 3 Kg

“Anak Petai pada masa lalu merupakan kawasan agraris yang sangat bergantung pada hasil perkebunan dan pertanian. Masyarakat hidup berdampingan dengan alam dan menjadikan tanah sebagai sumber penghidupan utama,” kata Harry.

Dari Jalan Angkong Menuju Kota Modern

Perjalanan menuju kemajuan tentu tidak berlangsung instan. Sebelum jalan-jalan permanen dibangun, akses transportasi masyarakat masih mengandalkan jalan tanah yang dikenal sebagai jalan angkong.

Angkong merupakan alat angkut sederhana yang ditarik hewan ternak seperti sapi untuk membawa hasil kebun maupun kebutuhan sehari-hari. Jalur-jalur tersebut menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pada masa itu.

Selain dikenal sebagai wilayah perkebunan karet dan ladang, Anak Petai juga berkembang sebagai sentra pertanian nanas serta industri batu bata merah yang hingga kini masih menjadi salah satu sumber penghasilan warga.

Transformasi wilayah semakin terlihat ketika berbagai lahan hijau mulai beralih fungsi menjadi kawasan permukiman, area komersial, hingga infrastruktur penunjang industri energi.

Salah satu peran strategis Anak Petai adalah keberadaannya sebagai lokasi pendukung pengelolaan gas bumi yang kemudian disalurkan untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat Kota Prabumulih.

Anak Petai Lahir Bersama Kota Prabumulih

Momentum penting dalam sejarah Anak Petai terjadi ketika Kota Prabumulih resmi terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2001.

Pembentukan daerah otonom baru tersebut membawa perubahan besar terhadap sistem administrasi pemerintahan di wilayah yang sebelumnya berada di bawah Kabupaten Muara Enim.

Wilayah-wilayah yang sebelumnya berstatus dusun dan desa mulai ditata ulang menjadi kelurahan sesuai kebutuhan pemerintahan kota yang baru lahir.

Selanjutnya, melalui Peraturan Daerah Kota Prabumulih Nomor 7 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Prabumulih Utara dan Prabumulih Selatan, Kelurahan Anak Petai secara resmi masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Prabumulih Utara.

Perubahan status tersebut menandai babak baru dalam sejarah pembangunan Anak Petai.

“Dari sebuah kawasan perkebunan dan dusun tradisional, Anak Petai kemudian berkembang menjadi wilayah administratif yang memiliki posisi strategis dalam pembangunan Kota Prabumulih,” ungkap Harry Maradona.

# Baca Juga :  Kepala BKPSDM Prabumulih Raih Penghargaan Peningkatan Kompetensi ASN 2025

Tokoh Perintis yang Membuka Wilayah

Sejarah Anak Petai juga tidak dapat dipisahkan dari peran para tokoh perintis yang membuka kawasan tersebut sejak puluhan tahun lalu.

Berdasarkan catatan sejarah dan penuturan masyarakat, sejumlah nama yang dikenal sebagai generasi awal penghuni Talang Anak Petai antara lain Ilias, Cik Adan, Cik Dang, M Diri, Maulen, Nang Adam, Marjanan, January, Mehusan, Badarudin atau Oten, Umar Nawi, Teret, M Nur, Cik Ani, serta Antap.

Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang membuka lahan, membangun permukiman, serta meletakkan fondasi kehidupan sosial yang kemudian berkembang menjadi wilayah seperti sekarang.

Meski mengalami perubahan sosial dan ekonomi yang sangat cepat, masyarakat Anak Petai tetap mempertahankan identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

Nilai gotong royong, semangat kebersamaan atau Seinggok Sepemunyian, serta kehidupan religius masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu tradisi yang terus bertahan adalah Sedekah Bedusun, ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada para puyang, sekaligus sarana mempererat hubungan sosial masyarakat.

Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa modernisasi tidak harus menghapus identitas budaya lokal.

Saat ini Kelurahan Anak Petai tercatat sebagai kelurahan terluas di Kecamatan Prabumulih Utara dengan luas sekitar 20,15 kilometer persegi. Wilayah ini menjadi kawasan transisi antara perkotaan dan pedesaan dengan potensi besar pada sektor permukiman, pertanian, industri, dan jasa.

Namun di balik geliat pembangunan yang terus berlangsung, tersimpan pesan penting bagi generasi muda untuk tidak melupakan sejarah daerahnya.

Harry Maradona menegaskan bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya dan sejarah masyarakat.

“Sejarah adalah akar yang menjaga sebuah wilayah tetap memiliki jati diri. Anak Petai hari ini boleh berkembang menjadi kawasan modern, tetapi generasi mendatang harus tetap mengenal bagaimana para leluhur membuka hutan, membangun kebun, menjaga adat, dan mewariskan nilai kebersamaan yang masih hidup sampai sekarang,” pungkasnya.

Tradisi Sedekah Pedusunan

Dalam catatan sejarah pemerintahan, tanggal 21 Juli 2005 menjadi momentum penting bagi masyarakat Anak Petai. Pada tanggal tersebut, wilayah Anak Petai resmi dimekarkan dan mulai menjalankan pemerintahan kelurahan secara mandiri. Peristiwa itu menjadi tonggak lahirnya Kelurahan Anak Petai yang pada tahun 2026 ini genap berusia 21 tahun.

# Baca Juga :  Polda Sumsel Ungkap 123 Kasus 3C, 137 Tersangka Diamankan Selama Mei 2026

Menurut Harry Maradona, usia 21 tahun menjadi perjalanan yang cukup panjang bagi sebuah wilayah yang terus tumbuh dan berkembang bersama Kota Prabumulih.

“Pemekaran pada 21 Juli 2005 merupakan titik awal perjalanan pemerintahan Kelurahan Anak Petai. Dari sinilah pelayanan kepada masyarakat semakin dekat dan pembangunan mulai bergerak lebih terarah. Tahun ini menjadi momen bersejarah karena Anak Petai genap berusia 21 tahun,” ujar Harry Maradona.

Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap sejarah panjang wilayah tersebut, masyarakat Kelurahan Anak Petai akan menggelar Sedekah Bedusun pada 17 Juni 2026 di Gedung Serba Guna Kelurahan Anak Petai.

Tradisi Sedekah Bedusun merupakan warisan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki, kesehatan, keselamatan, serta keberkahan yang diberikan kepada masyarakat selama ini.

Selain sebagai ungkapan syukur, Sedekah Bedusun juga menjadi sarana menjaga dan melestarikan budaya lokal yang diwariskan para leluhur agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Sedekah Bedusun bukan sekadar tradisi seremonial. Ini adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah membuka wilayah ini sekaligus wujud syukur masyarakat atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Tradisi ini juga menjadi perekat persaudaraan warga dan warisan budaya yang harus terus dijaga,” kata Harry Maradona.

Rangkaian kegiatan Sedekah Bedusun nantinya akan diisi dengan doa bersama, silaturahmi masyarakat, serta pentas kesenian lokal yang menampilkan kekayaan budaya masyarakat Anak Petai.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperingati usia ke-21 Kelurahan Anak Petai, tetapi juga memperkuat komitmen untuk menjaga nilai-nilai adat, gotong royong, dan identitas budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak dahulu kala.