Dari Lentik Jari ke Bentang Harapan : Batik Boek Khaman Merajut Masa Depan Perempuan Desa

Foto : Galeri Rumah Kreatif Boek Khaman, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4.

monopolinews.com | Muara Enim — Canting itu bergerak perlahan di antara jemari. Ujung kecilnya menari mengikuti pola, sesekali berhenti, lalu kembali menyusuri garis yang telah dirancang. Malam panas mengalir, meninggalkan jejak tipis di atas kain putih.

Tak boleh tergesa. Sebab, satu garis yang melenceng dapat mengubah rupa, sementara satu warna yang belum waktunya hadir bisa mengaburkan cerita.

Di Rumah Kreatif Boek Khaman, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pekerjaan semacam itu bukan sekadar urusan menghasilkan kain bermotif.

Di balik gerak tangan para perajin, tersimpan ikhtiar panjang untuk mengubah keterampilan menjadi penghidupan, mengangkat kekayaan desa menjadi karya, dan merawat harapan agar perempuan-perempuan di dalamnya memiliki ruang untuk tumbuh.

Bagi mata yang melintas sekilas, batik mungkin hanya sebidang kain dengan paduan warna dan corak. Namun, bagi mereka yang menekuninya, setiap motif adalah ingatan yang diberi bentuk.

Bambu yang tumbuh di sekitar permukiman, kebun karet yang menghidupi keluarga, hamparan kelapa sawit, hingga kopi yang akrab dengan tanah setempat, satu demi satu menemukan tempatnya dalam guratan batik.

Desa, yang selama ini lebih sering dibaca melalui hasil buminya, kini berusaha menuliskan dirinya sendiri di atas kain.

Perjalanan itu tidak lahir dari ruang produksi yang megah. Ia bermula pada 2021, ketika enam orang mengikuti pelatihan membatik yang difasilitasi melalui dinas terkait.

Dari lingkungan Karang Taruna, kesempatan belajar itu membuka pintu kecil menuju dunia yang sebelumnya belum sepenuhnya mereka kenal.

Mereka memulai dengan batik cap. Keterampilan masih terbatas, langkah belum selalu seirama, dan jalan untuk menjadikan kegiatan itu sebagai usaha yang bertahan belum terlihat jelas.

Ada masa ketika kelompok berjalan tersendat, terpecah dalam kegiatan masing-masing, sementara harapan untuk berkembang harus berhadapan dengan kenyataan sehari-hari.

Foto : Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari

“Awalnya memang kita tersendat-sendat dan terpecah-pecah,” kenang Etika Oktasari, Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman saat dibincangi media ini, Kamis (15/10/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan cerita tentang permulaan yang rapuh. Tentang orang-orang yang telah memegang keterampilan, tetapi masih harus menemukan cara untuk bertahan. Tentang usaha yang belum memiliki pijakan kuat, tetapi tidak dibiarkan berhenti hanya karena jalannya belum lapang.

Pada 2022, kegiatan tersebut mulai dihimpun dalam Rumah Kreatif Boek Khaman. Etika, yang sebelumnya terlibat sebagai pendamping, kemudian dipercaya memimpin kelompok.

Sejak saat itu, langkah mereka perlahan diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan batik, melainkan juga membangun ruang bersama, tempat keterampilan dirawat, gagasan dipertemukan, dan potensi desa diberi kesempatan untuk tumbuh.

Dari enam orang yang mula-mula belajar, sebuah perjalanan panjang mulai dirajut. Tak semua jalannya lurus. Tak setiap usaha langsung berbuah. Tetapi seperti malam yang menempel pada kain, perubahan pun memerlukan waktu agar jejaknya menetap.

Di Lubuk Raman, harapan itu kini tidak lagi hanya berupa garis tipis di atas kain putih.

Setiap daerah memiliki cara untuk menyimpan ingatan. Ada yang menitipkannya pada cerita lisan, ada yang mewariskannya melalui upacara dan tradisi, ada pula yang membiarkannya hidup dalam bentuk benda-benda yang dekat dengan keseharian.

Di Lubuk Raman, sebagian ingatan itu menemukan tempatnya pada motif batik.

Bambu, karet, kelapa sawit, dan kopi bukan sekadar tanaman yang tumbuh di tanah setempat. Semuanya adalah bagian dari kehidupan warga, dari mata pencarian yang dijalani, dari pemandangan yang dilihat berulang kali hingga terasa biasa. Justru dari sesuatu yang dianggap biasa itulah para perajin menemukan bahan untuk bercerita.

Etika memahami bahwa batik dari sebuah desa yang belum dikenal luas sebagai pusat batik perlu memiliki identitasnya sendiri. Mereka tidak harus mengulang seluruh jejak daerah lain. Mereka bisa memulai dari apa yang mereka kenal, dari tanah yang mereka pijak, dari lingkungan yang membentuk kehidupan sehari-hari.

“Kita membuat cerita-cerita di dalam batik itu. Jadi kita menjual cerita, orang mencari seni,” tutur Etika.

Kata-kata itu seolah menjadi benang yang menyatukan pekerjaan mereka. Kain tidak lagi hanya dihitung dari panjang, warna, atau harga jualnya. Ia membawa cerita tentang tempat asalnya. Ia menjadi cara bagi desa untuk memperkenalkan diri tanpa harus meninggalkan apa yang membuatnya berbeda.

Ketika motif bambu dibentangkan, ada sesuatu dari lingkungan desa yang ikut dibawa. Ketika unsur karet, kelapa sawit, dan kopi dituangkan ke dalam corak, kehidupan masyarakat menemukan bentuk lain untuk dikenang.

# Baca Juga :  Skandal Gelap Guru SMP Negeri Prabumulih Terbongkar, Video Asusila Disertai Ancaman: Pelaku Ternyata Paman Korban

Dari sanalah batik Boek Khaman berusaha menempatkan dirinya: bukan sekadar membuat kain yang indah, tetapi menghadirkan karya yang memiliki akar.

Teknik pengerjaannya pun berkembang. Dari batik cap, para perajin mulai mempelajari batik tulis dan pewarnaan alami. Mereka juga mengembangkan karya dengan pendekatan ekspresif, ketika warna dan bentuk memberi ruang bagi kebebasan seperti lukisan di atas kain.

Setiap teknik mempunyai tabiatnya sendiri. Batik dengan pengerjaan sederhana dapat diselesaikan dalam sehari, sementara batik tulis bisa menghabiskan tiga hari hingga satu minggu, bergantung pada kerumitan desain dan tahapan pengerjaannya.

Di sana, waktu tidak semata-mata dihitung sebagai lamanya pekerjaan. Waktu adalah bagian dari proses yang menentukan hasil. Ada garis yang harus dijaga, ada warna yang perlu menunggu, ada ketelitian yang tidak bisa digantikan oleh keinginan untuk cepat selesai.

Kain yang telah jadi mungkin tampak tenang ketika dibentangkan. Namun, di balik permukaannya, tersimpan serangkaian keputusan kecil yang dibuat oleh tangan-tangan yang bekerja dengan sabar.

Sebuah keterampilan dapat dipelajari dalam beberapa hari. Namun, mengubahnya menjadi usaha yang bertahan membutuhkan perjalanan berbeda. Ada kelompok yang harus dibangun, ada kemampuan yang perlu diperkuat, ada pula fasilitas dan pasar yang harus ditemukan.

Bagi Rumah Kreatif Boek Khaman, perjalanan itu mulai mendapat arah baru ketika PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 melakukan pemetaan sosial pada 2022. Pendampingan program kemudian berkembang pada 2023 melalui pelatihan, penguatan kelembagaan, dan dukungan sarana.

Foto : Senior Officer CID Zona 4 PHR, Dedi Zikrian S.

Senior Officer Community Involvement and Development (CID) Zona 4 PHR, Dedi Zikrian S., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang dengan melihat potensi masyarakat dan sumber daya yang tersedia di lingkungan desa.

Pelatihan tidak hanya menyentuh teknik batik. Para anggota juga mendapat penguatan dalam batik pewarna alami, jumputan, dan pengelolaan kelompok. Dukungan fasilitas berupa galeri dan balai turut memberi ruang bagi kegiatan bersama.

Sebuah bangunan mungkin tampak sederhana jika dilihat hanya dari dinding dan atapnya. Namun, bagi kelompok yang sedang tumbuh, ruang bersama dapat menjadi tempat bertemunya banyak kemungkinan. Di sana, hasil karya dapat diperlihatkan, persoalan usaha dibicarakan, dan pengalaman dibagikan kepada anggota lain.

Perlahan, Rumah Kreatif Boek Khaman berkembang dengan menghubungkan beberapa kelompok masyarakat. Kelompok Batik Khaman mengerjakan kain, kelompok wanita tani mengembangkan tanaman yang dibutuhkan untuk pewarna alami, kelompok kerajinan bambu mengolah bahan lokal, sementara kelompok pengelolaan limbah berupaya menangani sisa produksi.

Dedi menyebut lebih dari 40 warga aktif terlibat dalam kelompok-kelompok yang terhubung dengan program tersebut.

Di antara mereka, kegiatan tidak berdiri seperti pulau-pulau yang terpisah. Tanaman dapat mendukung kebutuhan pewarnaan. Bambu bukan hanya bahan kerajinan, tetapi juga dapat diolah menjadi arang untuk media penyaring. Sementara itu, pengolahan limbah menjadi bagian dari usaha menjaga agar kegiatan produksi tidak meninggalkan persoalan yang diabaikan.

Hubungan seperti ini membuat pemberdayaan memiliki arti lebih luas daripada sekadar pelatihan. Masyarakat tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga mulai melihat bagaimana kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki dapat saling menopang.

Dari sebuah keterampilan, tumbuh kegiatan bersama. Dari kegiatan bersama, muncul tanggung jawab untuk menjaga agar usaha tetap hidup.

PHR, melalui pendampingan tersebut, turut membuka jalan. Namun, perjalanan menuju kemandirian tetap berada di tangan masyarakat yang menjalankannya setiap hari.

Tidak setiap hari membawa kabar yang sama bagi para perajin. Ada waktu ketika pekerjaan datang bertahap, ada pula masa ketika pesanan menumpuk dan tangan harus bekerja lebih lama.

Etika menuturkan, kelompoknya pernah menyelesaikan hingga 70 lembar kain dalam satu minggu. Untuk kebutuhan seragam kegiatan instansi, jumlah pesanan dapat mencapai 100 hingga 200 set.

Pesanan dalam jumlah besar tentu membawa kesibukan tersendiri. Bahan harus disiapkan, pembagian pekerjaan diatur, dan setiap tahapan mesti dijalankan dengan cermat. Kepercayaan pelanggan tidak hanya dibangun melalui motif yang menarik, tetapi juga melalui kemampuan menyelesaikan pesanan sesuai kebutuhan.

Etika menyebut omzet usaha pernah mencapai Rp30 juta. Angka tersebut masih perlu dibaca bersama periode pencatatan dan rincian penjualan agar perkembangan usaha dapat tergambar secara utuh. Sebab, omzet bukanlah keuntungan bersih. Ada bahan baku, pewarna, biaya produksi, tenaga kerja, dan kebutuhan operasional yang harus diperhitungkan.

# Baca Juga :  Perempuan Muda Asal Kelurahan Pasar 2 Prabumulih Larikan Motor Keluarga

Penghasilan para perajin juga tidak selalu sama. Etika menyebut sebagian anggota pernah memperoleh sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta pada periode tertentu, bergantung pada pekerjaan dan penjualan yang tersedia.

Angka itu mungkin berbeda dari satu masa ke masa lainnya. Namun, di baliknya ada hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kesempatan untuk memperoleh penghasilan melalui keterampilan sendiri.

Ada pekerjaan yang bisa dibawa pulang hasilnya. Ada waktu yang sebelumnya mungkin tidak menghasilkan pendapatan, kini menemukan nilai melalui proses membatik. Ada pula kebanggaan ketika kain yang dikerjakan dengan teliti akhirnya dipilih dan dikenakan orang lain.

Bagi usaha kecil, setiap pesanan bukan sekadar catatan transaksi. Ia dapat menentukan apakah kegiatan produksi terus berjalan, apakah keterampilan para anggota tetap terpakai, dan apakah usaha memiliki cukup ruang untuk tumbuh.

Batik Boek Khaman telah diperkenalkan melalui sejumlah kegiatan, termasuk pameran dan peragaan busana. Karya mereka pernah dibawa ke kegiatan tingkat nasional, salah satunya di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), serta kegiatan pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Muara Enim juga disebut membantu memperkenalkan produk ke toko oleh-oleh, termasuk di Lampung. Upaya itu membuka kesempatan bagi batik dari Lubuk Raman untuk menjangkau pembeli di luar lingkungan asalnya.

Tetapi pasar tidak selalu mudah ditaklukkan. Produk yang pernah tampil di sebuah pameran belum tentu langsung menemukan pembeli tetap. Kualitas harus dijaga, promosi perlu dilakukan terus-menerus, dan kepercayaan pelanggan harus dirawat dari satu pesanan ke pesanan berikutnya.

Cita-cita menjangkau pasar internasional pun masih berada di hadapan sebagai perjalanan yang panjang. Ia membutuhkan persiapan, konsistensi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Bagi para perajin, harapan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dikerjakan, seperti motif yang ditorehkan perlahan di atas kain.

Dari aspek lain, ada satu bagian dari proses membatik yang tidak tampak pada kain yang telah selesai, yaitu air bekas produksi.

Di balik warna yang melekat indah, terdapat proses yang menggunakan bahan dan pewarna, meninggalkan sisa yang harus ditangani dengan benar. Jika dibiarkan tanpa pengolahan, limbah cair berpotensi membawa dampak bagi lingkungan.

Di Rumah Kreatif Boek Khaman, persoalan tersebut berusaha dijawab melalui sistem pengolahan limbah bertahap. Air sisa produksi terlebih dahulu melalui proses pengendapan, kemudian dialirkan melewati media penyaring dan pengolahan biologis sebelum menuju tahapan akhir.

Pengelola menjelaskan bahwa air hasil olahan ditujukan untuk penggunaan non konsumsi, seperti kebutuhan tertentu dalam proses produksi atau penyiraman tanaman. Kualitas air tetap perlu dipastikan melalui pengujian laboratorium dan dibandingkan dengan ketentuan lingkungan yang berlaku.

Lumpur hasil pengendapan juga dicoba untuk dimanfaatkan sebagai bahan pigmen alternatif pembuatan cat tembok. Pemanfaatan tersebut tetap membutuhkan pengujian mutu dan keamanan agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Di sisi lain, sisa bambu dari kegiatan kerajinan diolah melalui proses pirolisis untuk menghasilkan arang. Arang itu kemudian digunakan sebagai salah satu media penyaring dalam pengolahan limbah batik.

Di sinilah hubungan antar kelompok menemukan maknanya. Bambu yang tidak lagi digunakan untuk kerajinan dapat memiliki fungsi lain. Tanaman pewarna mendukung produksi kain, sedangkan sistem pengolahan limbah berusaha mengurangi dampak dari proses yang menghasilkan warna-warna tersebut.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Oktober 2026 mengenai integrasi pengolahan limbah batik dan pemanfaatan sisa bambu di Boek Khaman melaporkan penurunan chemical oxygen demand (COD) sebesar 56,2 persen, total padatan terlarut atau TDS sebesar 50 persen, dan kekeruhan sebesar 95 persen. Penelitian tersebut juga mencatat potensi penghematan air sebesar 28,6 meter kubik per tahun.

Hasil itu memberikan gambaran tentang capaian pengolahan dalam kondisi penelitian. Meski demikian, keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat disimpulkan hanya dari satu hasil pengujian. Pemeriksaan berkala tetap diperlukan untuk memastikan kualitas air hasil olahan dan kesesuaiannya dengan baku mutu yang berlaku.

Upaya tersebut menjadi pengingat bahwa usaha yang tumbuh dari desa juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan tempatnya berpijak.

Sebab, tanah yang menumbuhkan bambu, karet, kelapa sawit, dan kopi yang kemudian menjadi inspirasi motif batik adalah tanah yang sama tempat masyarakat membangun kehidupan. Menjaganya berarti menjaga sumber cerita sekaligus sumber penghidupan.

Dari hal tersebutlah, perjalanan Rumah Kreatif Boek Khaman telah membawa nama Lubuk Raman ke ruang apresiasi yang lebih luas. Pada 2026, program ini meraih Gold kategori Economic Empowerment dalam Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026.

# Baca Juga :  Satu Lagi, Pelaku Pencurian Sapi di Wiayah Air Itam PALI Berhasil di Bekuk Team Srigala Polsek Penukal Abab

Pengakuan tersebut berkaitan dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan keterampilan, kegiatan produktif, dan penguatan kapasitas kelompok.

Pada tahun yang sama, program Boek Khaman juga meraih Gold kategori Best CID – Economic Program dalam Community Involvement & Development Upstream Award (CID UA) 2026.

Dua penghargaan itu menjadi penanda perjalanan sebuah program yang menghubungkan kegiatan ekonomi masyarakat dengan potensi lokal dan perhatian terhadap lingkungan.

Namun, penghargaan memiliki waktunya sendiri. Ada hari ketika nama pemenang diumumkan, ada piagam yang diserahkan, dan ada kebanggaan yang layak dirayakan. Setelah itu, kehidupan kembali pada pekerjaan sehari-hari.

Kain tetap harus dibuat. Pesanan tetap perlu dicari. Pengelolaan usaha harus terus diperbaiki. Dan para perajin harus tetap memiliki alasan untuk datang, duduk, membentangkan kain, lalu kembali menggerakkan canting.

Di sanalah penghargaan menemukan maknanya yang lebih dalam. Bukan hanya sebagai pengakuan atas apa yang telah dikerjakan, melainkan sebagai pengingat bahwa perjalanan berikutnya masih menunggu.

PHR Zona 4 menyiapkan strategi keluar atau exit strategy pada 2029. Menurut Dedi, tahapan tersebut disertai indikator untuk menilai kesiapan kelompok dalam menjalankan usaha secara mandiri.

Rencana itu membawa pertanyaan penting bagi masa depan Boek Khaman. Seberapa kuat kelompok menjaga produksi ketika pendampingan berkurang? Seberapa luas pasar yang dapat mereka pertahankan? Dan seberapa siap mereka mengelola usaha dengan kemampuan sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dijawab sekaligus. Namun, jawabannya akan menentukan apakah kegiatan yang tumbuh selama bertahun-tahun dapat terus hidup setelah masa pendampingan berakhir.

Kemandirian bukan sekadar mampu membuat batik tanpa bantuan. Ia juga berarti sanggup mengatur keuangan, menjaga mutu, mencari pelanggan, menyelesaikan persoalan bersama, dan memastikan hasil kerja memberi manfaat nyata bagi para anggotanya.

Dari enam orang yang memulai perjalanan pada 2021, kini lebih dari 40 warga disebut aktif dalam kelompok-kelompok pemberdayaan yang terhubung dengan program tersebut. Perubahan itu menunjukkan betapa jauh sebuah langkah awal dapat bergerak ketika kesempatan bertemu dengan kemauan untuk terus belajar.

Tetapi perjalanan belum selesai. Masih ada pekerjaan yang harus diperkuat, pasar yang perlu dijangkau, dan kemampuan yang mesti terus dirawat.

Barangkali tidak semua orang akan mengingat nama setiap motif batik Boek Khaman. Tidak semua pula mengetahui berapa lama sebuah kain dikerjakan, berapa kali warna harus melalui proses, atau berapa banyak tangan yang terlibat hingga hasil akhirnya siap diperlihatkan.

Namun, di balik selembar kain, ada perjalanan yang lebih panjang daripada proses produksi.

Ada enam orang yang dahulu datang untuk belajar. Ada keterampilan yang tumbuh di tengah keterbatasan. Ada kelompok yang perlahan disatukan, perempuan-perempuan yang menemukan ruang untuk berkarya, dan masyarakat yang mulai melihat bahwa sumber daya di sekitar mereka dapat menjadi kekuatan ekonomi.

Ada pula upaya untuk memastikan bahwa kegiatan produksi tidak hanya meninggalkan barang yang bisa dijual, tetapi juga memikirkan limbah yang dihasilkan. Ada penghargaan yang telah diraih, dan ada tantangan kemandirian yang menunggu untuk dijawab.

Semua itu tidak menjadikan perjalanan Boek Khaman selesai. Justru di situlah babak berikutnya dimulai.

Di Lubuk Raman, masa depan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar dan gemerlap. Kadang, ia datang melalui kesempatan kecil yang dipelihara dengan tekun. Melalui tangan yang kembali bekerja meski pesanan belum tentu datang setiap hari. Melalui keberanian mencoba teknik baru, memperkenalkan produk ke tempat yang lebih jauh, dan memperbaiki cara usaha dikelola.

Lentik jari yang menggenggam canting mungkin hanya menggerakkan ujung kecil berisi malam. Tetapi dari gerak yang sederhana itu, sebuah perjalanan dapat dimulai.

Pada kain, mereka menorehkan bambu, karet, kelapa sawit, dan kopi, atau jejak dari tanah yang mereka kenal. Dalam kehidupan, mereka sedang berusaha menorehkan sesuatu yang lain, yaitu kesempatan untuk berdiri lebih mandiri tanpa tercerabut dari akar tempat mereka tumbuh.

Dan ketika selembar kain akhirnya selesai, kisahnya tidak benar-benar berakhir. Ia akan dibawa pergi, dikenakan seseorang, mungkin dilihat oleh mata yang belum pernah mengenal Lubuk Raman.

Bersamanya, ada bagian kecil dari desa yang ikut berjalan.

Sementara di rumah kreatif itu, kain berikutnya menunggu. Canting kembali diangkat. Jemari kembali bekerja. Sebab, harapan tidak cukup hanya sekali ditorehkan, ia harus dirawat, setitik demi setitik, sampai menemukan bentuknya sendiri.

Penulis : Riok