monopolinews.com | Prabumulih — Kabar keberhasilan sumur GNK-114 di Struktur Gunung Kemala, Prabumulih, yang disebut Pertamina mampu mencapai potensi produksi 5.605,68 barel minyak per hari (BOPD) dan 2,96 MMSCFD gas pada uji alir awal, justru menuai beragam komentar kritis dari netizen.
Rilis resmi Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 tersebut menyebut capaian GNK-114 merupakan hasil penerapan kombinasi batch drilling dan dual completion. Sumur itu juga disebut sebagai pilot penerapan teknologi tersebut di Struktur Gunung Kemala.
Namun, di tengah kabar capaian produksi yang disebut fantastis tersebut, sejumlah warga yang ikut berkomentar di media sosial mempertanyakan sejauh mana keberhasilan industri migas tersebut dirasakan langsung masyarakat Prabumulih.
“Apa yang patut dibanggakan,” tulis salah seorang netizen.
Komentar lain bahkan menyoroti kondisi warga yang dinilai masih menghadapi persoalan sehari-hari, termasuk harga BBM dan antrean di SPBU.
“Minyak di pom bensin tambah saroh, kapan nak ngisi ngantri nyo panjang,” tulis akun lainnya.
Ada pula netizen yang menilai masyarakat Prabumulih hanya menjadi penonton meski daerahnya dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil minyak dan gas.
“Kite uhang Prabumileh jadi penonton saje,” tulis seorang pengguna media sosial.
Komentar serupa juga mempertanyakan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal. Salah satu netizen menulis bahwa meski produksi minyak dan gas meningkat, kondisi tersebut belum otomatis membuat masyarakat merasakan keuntungan secara langsung.
Sorotan lainnya bahkan mengarah pada isu kesempatan kerja dan tata kelola. Seorang netizen menulis sindiran terkait sulitnya mendapatkan pekerjaan tanpa adanya praktik yang menurutnya tidak semestinya. Pernyataan tersebut merupakan opini pribadi pengguna media sosial dan belum merupakan fakta yang terverifikasi.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan adanya jarak persepsi antara capaian industri migas yang disampaikan perusahaan dengan ekspektasi sebagian masyarakat di daerah penghasil.
Di satu sisi, angka 5.605,68 BOPD pada uji alir awal GNK-114 merupakan capaian teknis yang patut dicatat. Namun di sisi lain, bagi sebagian masyarakat, pertanyaan yang muncul bukan hanya berapa banyak minyak yang berhasil diproduksikan, melainkan seberapa besar manfaat ekonomi, lapangan pekerjaan, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat di daerah penghasil.
Dengan kata lain, bagi sebagian warga, persoalannya bukan semata-mata “berapa banyak minyak yang keluar dari perut bumi Prabumulih?”, tetapi juga “apa yang kembali ke masyarakat Prabumulih?”
Pertanyaan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perusahaan migas, untuk menjelaskan secara terbuka mengenai kontribusi kegiatan produksi terhadap masyarakat dan daerah.
Sebab, ketika sebuah daerah menghasilkan sumber daya alam dalam jumlah besar, wajar apabila masyarakat juga mempertanyakan seberapa besar nilai tambah yang mereka rasakan di tanah sendiri.
Hingga berita ini di terbitkan, pihak PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 belum memberikan Tanggapan.






