Sisi Lain Penerapan Belajar Daring di Prabumulih, Orang Tua Ngaku Kewalahan Jadi Guru Dadakan

monopolinews.com | Prabumulih — Kebijakan belajar daring akibat kabut asap di Kota Prabumulih tak hanya mengubah rutinitas siswa, tetapi juga menambah pekerjaan orang tua di rumah. Di tengah upaya melindungi anak-anak dari paparan udara yang memburuk, para orang tua kini harus membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga, mencari nafkah, dan mendampingi anak belajar.

Bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak, situasinya bisa semakin merepotkan. Ada yang harus mendampingi tiga anak sekaligus, sementara setiap anak memiliki tugas dan tingkat pemahaman yang berbeda.

Tak sedikit orang tua yang akhirnya harus belajar kembali agar bisa menjelaskan materi pelajaran kepada anaknya. Ketika anak sulit memahami tugas atau mulai kehilangan konsentrasi, kesabaran pun benar-benar diuji.

Menjadi guru dadakan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua orang tua terbiasa mengajar, terlebih jika pekerjaan rumah tangga masih menumpuk dan kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.

“Memang repot sih, tapi mau bagaimana lagi. Kondisinya memang seperti ini,” ujar Ningsih saat dibincangi awak media, Rabu (14/10/2026).

Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Prabumulih, Franky Nasril, mengakui bahwa kondisi kesehatan anak harus menjadi pertimbangan utama di tengah memburuknya kualitas udara.

“Iya, ya cuman kan kito harus perhatiin juga kan anak-anak, kan yang pasti kesehatannya. Untuk adakah daring itu kan pasti ada kajiannya. Ada kajiannya, mana baik buruknya, gitu kan. Tapi positifnya memang kemarin kan beberapa hari memang cuaca kurang bagus untuk anak-anak, nah makanya kito putuske kemarin dari Dinas Pendidikan untuk PJJ,” kata Franky.

Kebijakan tersebut kini diperpanjang. Berdasarkan Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih Nomor 800/1508/DISDIKBUD/2026, pembelajaran tatap muka bagi peserta didik TK/PAUD, SD, dan SMP negeri maupun swasta kembali dihentikan sementara pada 15–17 Oktober 2026.

# Baca Juga :  Pemuda Asal Kecamatan Prabumulih Timur Tak Berkutik Saat Digelandang Tim Satres Narkoba di Prabumulih Utara

Dalam surat itu disebutkan, perpanjangan dilakukan karena hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) masih menunjukkan kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat dampak kabut asap karhutla.

Selama PJJ, guru diminta memberikan materi melalui pembelajaran daring atau penugasan dari rumah. Beban belajar juga harus disederhanakan dengan berfokus pada literasi, numerasi, dan karakter, tanpa membebani siswa maupun orang tua.

Di satu sisi, kebijakan ini menjadi langkah untuk melindungi kesehatan anak. Namun, di sisi lain, orang tua juga membutuhkan dukungan sekolah agar pembelajaran dari rumah tidak berubah menjadi beban tambahan yang sulit dijalani.

Kini, keluarga di Prabumulih berharap kondisi udara segera membaik sehingga anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. Sebab, orang tua tentu siap mendampingi anak, tetapi menggantikan peran guru setiap hari bukanlah perkara mudah.