Kualitas Udara di Kota Prabumulih Kian Mengkhawatirkan, ISPU Tembus 319 Level Berbahaya, Masyarakat di Minta Siap-siap?

monopolinews.com | Prabumulih — Kualitas udara di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, kian mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir, angka pencemaran udara yang dilaporkan menunjukkan tren peningkatan, dari kategori tidak sehat hingga mencapai level berbahaya. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Berdasarkan rangkaian data pemantauan yang diberitakan pada awal Oktober 2026, angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dengan parameter PM2.5 di Prabumulih tercatat sebesar 191 pada 3 Oktober pukul 15.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

Kondisi kemudian memburuk. Pada 6 Oktober pukul 18.00 WIB, angka yang dilaporkan mencapai 214 atau kategori sangat tidak sehat. Sehari berikutnya, angka tersebut meningkat menjadi 265 dan masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Situasi semakin mengkhawatirkan pada Kamis (8/10/2026) pagi. Hasil pengukuran yang diberitakan pada pukul 06.00 WIB menunjukkan angka ISPU parameter PM2.5 mencapai 319, yang termasuk kategori berbahaya.

Kenaikan dari 191 menjadi 319 dalam rentang pengukuran tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 128 poin. Meski demikian, angka-angka itu berasal dari waktu pengukuran yang berbeda dan belum merupakan catatan lengkap untuk setiap hari selama sepekan.

Hingga Jumat (9/10/2026), angka 319 merupakan pengukuran terakhir yang berhasil dihimpun dalam rangkaian data ini. Angka tersebut belum dapat dipastikan sebagai kondisi kualitas udara terkini pada hari ini.

Memburuknya kualitas udara di Prabumulih juga diiringi keluhan masyarakat mengenai kabut asap yang semakin pekat. Sejumlah warga dilaporkan merasakan mata perih dan gangguan pernapasan ketika beraktivitas di tengah kondisi udara yang memburuk.

Partikel halus PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena ukurannya memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

# Baca Juga :  Bongkar Ruko Curi Mesin Air dan Kentang, Warga Perumnas Gunung Ibul Prabumulih Diringkus

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki riwayat asma, penyakit paru-paru, atau gangguan jantung perlu mendapat perhatian khusus.

Namun, tingkat dampak kesehatan yang dialami masyarakat Prabumulih belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan angka kualitas udara. Data terbaru mengenai kasus ISPA, peningkatan kunjungan ke fasilitas kesehatan, dan jumlah warga terdampak masih diperlukan untuk menggambarkan situasi secara menyeluruh.

Warga Diminta Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Prabumulih Djoko Listyano, S.KM., M.Si mengungkapkan di tengah memburuknya kondisi udara, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap terlihat pekat atau terdapat peringatan kualitas udara buruk.

Apabila harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masyarakat juga disarankan menghindari olahraga berat di luar ruangan, menjaga kualitas udara di dalam rumah, serta memperhatikan kondisi kesehatan anak-anak dan lansia.

“Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan berat perlu segera mencari pertolongan medis, Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru perlu lebih waspada,” katanya, Jumat (09/101/2026).

Ia juga mengungkapkan, Selain melindungi diri, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran sampah, lahan, maupun kegiatan lain yang dapat menambah pencemaran udara. Upaya pencegahan tersebut penting untuk menekan sumber polusi yang dapat memperburuk keadaan.

Dari aspek lain, Memburuknya kualitas udara Prabumulih terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi persoalan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Pada 7 Oktober 2026, jumlah titik panas yang dilaporkan terdeteksi di Sumsel mencapai 3.762 titik dalam periode 24 jam. Sehari kemudian, angka yang diberitakan turun menjadi 2.590 titik berdasarkan data pukul 05.00 WIB.

# Baca Juga :  Program Kapolda Sumsel yang Berkerjasama Dengan Bank Sumsel Babel Bedah 2 Rumah Warga Prabumulih

Penurunan jumlah titik panas tersebut belum serta-merta menjamin kualitas udara di Prabumulih membaik. Kondisi udara juga dipengaruhi oleh lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta pergerakan asap dari wilayah lain.

Perlu ditegaskan, jumlah titik panas tersebut merupakan data tingkat Provinsi Sumatera Selatan, bukan jumlah kebakaran yang dipastikan terjadi di Kota Prabumulih. Sumber asap yang memengaruhi kondisi udara setempat masih memerlukan pemantauan dan konfirmasi lebih lanjut.

Karena itu, perkembangan karhutla perlu diikuti bersamaan dengan pemantauan kualitas udara agar penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Pemantauan dan Penanganan Perlu Diperkuat

Kondisi kualitas udara yang dilaporkan mencapai kategori berbahaya menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan di Kota Prabumulih. Pembaruan data secara berkala diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai tingkat pencemaran, waktu pengukuran, serta langkah perlindungan yang perlu dilakukan.

Pemerintah daerah bersama instansi lingkungan hidup, kesehatan, kebencanaan, dan pihak terkait diharapkan terus memantau perkembangan kondisi udara, memperkuat edukasi kepada masyarakat, serta meningkatkan kesiapsiagaan apabila kabut asap semakin memburuk.

Informasi mengenai perkembangan kasus gangguan pernapasan, kesiapan fasilitas kesehatan, penanganan sumber kebakaran, dan kemungkinan penerapan langkah perlindungan bagi kelompok rentan juga menjadi hal penting untuk diperhatikan.

Kualitas udara bukan sekadar persoalan jarak pandang atau kenyamanan beraktivitas. Ketika pencemaran mencapai tingkat berbahaya, perlindungan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian utama.

Dengan kondisi yang masih perlu dipantau, masyarakat Prabumulih diharapkan tetap waspada, mengikuti informasi resmi terbaru, dan mengurangi paparan asap hingga kualitas udara kembali membaik.