monopolinews.com | Muratara – Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan Bus ALS dan truk tangki BBM di wilayah Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, masih menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Insiden yang terjadi pada 5 Mei 2026 itu merenggut nyawa 16 penumpang beserta sopir bus dan kini menjadi sorotan publik terkait kondisi memprihatinkan Jalan Lintas Tengah Sumatera.
Kecelakaan tersebut kembali memunculkan keluhan masyarakat mengenai kerusakan parah ruas jalan penghubung Sekayu – Musi Rawas – Musi Rawas Utara yang selama ini dinilai membahayakan pengguna jalan.
Sejak awal tahun 2026, berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis, LSM, hingga insan pers, telah berulang kali menyuarakan persoalan kerusakan Jalan Lintas Tengah Sumatera. Namun hingga kini, perbaikan dinilai belum berjalan optimal.
Publik pun menduga kondisi jalan rusak menjadi salah satu faktor yang turut memicu terjadinya kecelakaan maut tersebut. Sebelum insiden Bus ALS terjadi, ruas jalan lintas tengah di wilayah Sumatera Selatan, khususnya jalur Sekayu hingga Lubuk Linggau, memang diketahui mengalami kerusakan cukup parah dengan banyak lubang dan badan jalan bergelombang.
Masyarakat kini berharap Presiden RI Prabowo Subianto dapat turun langsung meninjau kondisi jalan nasional tersebut sekaligus memastikan percepatan perbaikan infrastruktur yang dianggap sebagai urat nadi transportasi di Sumatera Selatan.
Aktivis lingkungan sekaligus tokoh pemuda Kecamatan Sanga Desa, Hendri, menilai tragedi kecelakaan Bus ALS harus menjadi alarm keras bagi pemerintah terkait buruknya tata kelola jalan di Sumsel.
Menurutnya, kerusakan jalan saat ini bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan pengguna jalan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
“Tragedi tabrakan Bus ALS dan truk tangki BBM di Karang Jaya menjadi alarm bagi pemerintah. Jalan lintas ini adalah urat nadi transportasi nasional, tetapi kondisinya seperti jebakan maut. Jangan tunggu ada korban berikutnya baru serius bekerja untuk masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyebut kecelakaan yang terjadi bukan hanya melibatkan Bus ALS, melainkan sudah banyak insiden lain akibat kondisi jalan rusak, mulai dari kendaraan roda dua terjatuh karena lubang jalan, truk CPO terguling di bahu jalan, hingga kendaraan yang keluar jalur saat menghindari lubang besar di badan jalan.
Hendri mendesak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk segera turun langsung mengawasi proses perbaikan jalan agar kualitas pekerjaan benar-benar terjamin dan selesai tepat waktu.
Sementara itu, Ketua IWO Indonesia, Indra Organisani, menyampaikan pihaknya bersama sejumlah elemen masyarakat dan LSM berencana menggelar aksi demonstrasi di Kantor Gubernur Sumatera Selatan.
Ia menilai proses perbaikan Jalan Lintas Tengah hingga saat ini terkesan lamban dan belum menunjukkan progres signifikan. Selain itu, kualitas pekerjaan juga menjadi sorotan masyarakat.
“Seperti jalan di Desa Beruge yang belum genap sepekan dilakukan pengerasan sudah kembali rusak. Kemudian jalan di wilayah Sugi Raya yang sudah berbulan-bulan dilakukan pengerasan hingga kini belum juga diaspal,” katanya.
Masyarakat berharap tragedi maut Bus ALS menjadi perhatian serius seluruh pihak agar perbaikan infrastruktur jalan tidak lagi berjalan lambat dan korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas dapat dicegah di masa mendatang.
Laporan : Indra






