monopolinews.com | Muara Enim – Setelah sebelumnya menjadi sorotan akibat belum adanya penjelasan resmi terkait dugaan kebocoran pipa minyak di Desa Jemenang, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, akhirnya pihak Pertamina memberikan klarifikasi.
Klarifikasi tersebut disampaikan Senior Manager Pertamina EP (PEP) Limau Field Abdul Rachman Para Buana melalui Puspita saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp, Selasa (30/6/2026).
Dalam keterangannya, Abdul Rachman menjelaskan bahwa pipa yang mengalami kebocoran merupakan trunkline jalur South Palembang District (SPD), yaitu jaringan pipa yang mengalirkan minyak dari sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan Kerja Sama Operasi (KSO).
“Pipa yang bocor di Desa Jemenang, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim merupakan trunkline jalur South Palembang District (SPD) yang merupakan pipa yang mengalirkan minyak dari beberapa KKKS dan KSO,” demikian keterangan Abdul Rachman yang disampaikan melalui Puspita.
Ia juga menegaskan bahwa operasional dan pemeliharaan (maintenance) trunkline SPD bukan berada di bawah tanggung jawab Pertamina EP Limau Field.
“Operasional dan maintenance fasilitas pemipaan trunkline jalur South Palembang District (SPD) berada pada tanggung jawab PT Titian Service Indonesia di sepanjang segmen, termasuk yang melintas di Desa Jemenang.”
Meski demikian, Pertamina EP Limau Field mengaku tetap mengambil langkah cepat pada saat awal kejadian karena merupakan unit operasi yang paling dekat dengan lokasi.
“Pertamina EP Limau Field yang merupakan KKKS terdekat dengan lokasi kejadian bertindak cepat untuk melakukan penanganan awal. Selanjutnya penanganan dilakukan PT Titian Service Indonesia dengan tetap berkoordinasi dengan pihak terkait trunkline jalur South Palembang District (SPD).”
Dalam kesempatan tersebut, pihak Pertamina juga mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi menjaga keamanan fasilitas migas dengan segera melaporkan apabila menemukan kebocoran maupun kondisi lain yang berpotensi membahayakan.
“Kami mengajak partisipasi masyarakat untuk melaporkan kebocoran ataupun hal yang berpotensi membahayakan di sekitar fasilitas migas milik Pertamina kepada perangkat desa/kelurahan ataupun petugas Pertamina terdekat,” tutup Abdul Rachman.
Sebelumnya, dugaan kebocoran pipa di wilayah tersebut menjadi perhatian publik setelah beredar video yang memperlihatkan cairan berwarna gelap diduga minyak mentah mengalir ke saluran drainase.
Peristiwa itu sempat menuai sorotan karena belum adanya keterangan resmi dari pihak perusahaan saat upaya konfirmasi awal dilakukan.






