Ketika Waktu Menjadi Biaya : Membaca Inovasi Pengeboran Migas di Prabumulih

Aktivitas pengeboran di Struktur Gunung Kemala, wilayah kerja PEP Prabumulih Field, PHR Zona 4. Penerapan metode batch drilling menjadi salah satu upaya mengoptimalkan waktu dan biaya pengeboran melalui pengerjaan sejumlah sumur dalam satu klaster.

monopolinews.com | Prabumulih — Dalam pekerjaan pengeboran minyak dan gas bumi, waktu bukan sekadar hitungan hari di kalender. Di balik setiap tahapan operasi, ada pergerakan peralatan, kebutuhan lahan, tenaga kerja, dan biaya yang terus berjalan. Memangkas waktu pengerjaan berarti mengubah cara seluruh rangkaian pekerjaan itu dijalankan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu dasar penerapan batch drilling dalam pengembangan Struktur Gunung Kemala, wilayah kerja PEP Prabumulih Field, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Melalui metode ini, sejumlah sumur yang berdekatan direncanakan dikerjakan dalam satu klaster, sehingga proses pengeboran dapat berlangsung lebih terintegrasi.

Angka yang disampaikan Assistant Manager Drilling Operation Area 2 PHR Zona 4, Anton Budi Prasetio, menunjukkan perbedaan durasi yang menjadi perhatian. Dari acuan 71 hari, waktu pengerjaan dapat ditekan menjadi 55 hari. Ada 16 hari yang dapat dipangkas, atau sekitar 22,5 persen lebih singkat dibandingkan acuan awal.

Angka itu bukan sekadar perbedaan antara dua catatan waktu. Di baliknya terdapat perubahan pada cara rig pengeboran berpindah dari satu sumur menuju sumur berikutnya.

Pada pola pengeboran di lokasi terpisah, pemindahan rig dapat melibatkan tahapan pembongkaran, pemindahan, dan pemasangan kembali peralatan. Dalam batch drilling, sumur-sumur yang berada dalam satu klaster dikerjakan secara bertahap.

Foto : Assistant Manager Drilling Operation Area 2 PHR Zona 4, Anton Budi Prasetio

“Rig dapat digeser ke titik berikutnya melalui mekanisme skidding, sehingga tidak perlu selalu menjalani proses rig-down dan pemasangan ulang secara penuh seperti pada pola konvensional,” katanya saat di bincangi awak media, Kamis (15/10/2026).

Anton menjelaskan, pendekatan tersebut turut memberikan efisiensi biaya sekitar 23 persen berdasarkan perhitungan yang dipaparkannya dalam wawancara. Dengan demikian, perubahan metode kerja tidak hanya berkaitan dengan durasi pengeboran, tetapi juga dengan penggunaan sumber daya selama operasi berlangsung.

Dalam kegiatan pengeboran, waktu dan biaya memiliki hubungan erat. Semakin panjang rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan, semakin banyak pula sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

Karena itu, mengurangi tahapan yang tidak perlu menjadi bagian penting dalam merancang operasi yang lebih efisien, tanpa mengabaikan persyaratan teknis dan keselamatan.

# Baca Juga :  Polres Prabumulih Gelar Binev Bhabinkamtibmas 2026, Perkuat Peran Polisi di Tengah Masyarakat

Penghematan waktu tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan lahan. Pengeboran sumur minyak membutuhkan lokasi yang dipersiapkan untuk menampung peralatan dan mendukung akses menuju titik operasi.

Anton menerangkan bahwa satu lokasi sumur yang berdiri sendiri dapat membutuhkan sekitar dua hektare lahan, termasuk akses jalan. Apabila lima sumur ditempatkan pada lokasi terpisah dengan kebutuhan serupa, luas yang diperlukan secara ilustratif bisa mencapai sekitar 10 hektare.

Sebaliknya, pengembangan sejumlah sumur dalam satu klaster berpotensi menekan kebutuhan lahan. Dengan asumsi kebutuhan sekitar dua hektare untuk satu klaster, selisih kebutuhan lahan terhadap skenario lima lokasi terpisah dapat mencapai sekitar delapan hektare.

Perhitungan tersebut merupakan gambaran berdasarkan estimasi kebutuhan lahan yang disampaikan Anton, bukan pengukuran penghematan lahan aktual yang telah diaudit. Kebutuhan riil tetap bergantung pada desain lokasi, jarak antarsumur, akses jalan, dan persyaratan keselamatan.

Namun, gambaran itu memperlihatkan bahwa keputusan mengenai tata letak sumur dapat berpengaruh terhadap efisiensi operasi secara keseluruhan.

Di Gunung Kemala, pengembangan direncanakan mencakup lima sumur dalam satu klaster. Pelaksanaannya berlangsung bertahap. Berdasarkan informasi yang diperoleh dalam liputan, satu sumur telah selesai dikerjakan, sedangkan satu sumur lainnya masih dalam proses pengerjaan.

Tahapan tersebut penting untuk dipahami agar rencana pengembangan tidak disamakan dengan jumlah sumur yang sudah selesai. Efisiensi metode pengeboran dapat dijelaskan melalui perhitungan dan pengalaman teknis yang disampaikan narasumber, sementara hasil akhir pengembangan tetap mengikuti perkembangan pekerjaan di lapangan.

Selain batch drilling, Gunung Kemala juga menjadi lokasi penerapan teknologi dual completion. Jika batch drilling mengubah pola pengerjaan sejumlah sumur, dual completion berkaitan dengan cara mengoptimalkan produksi dari dua zona reservoir melalui satu sumur.

Anton menjelaskan, teknologi ini dapat digunakan ketika kajian teknis menunjukkan bahwa dua zona reservoir memiliki potensi yang memungkinkan untuk diproduksikan secara bersamaan. Setiap zona mempunyai karakteristik dan kedalaman yang berbeda, sehingga penyelesaiannya memerlukan rancangan khusus.

# Baca Juga :  Lagi, Pengedar Sabu yang Kerap Beroperasi di Kelurahan Pasar 1 Prabumulih Diringkus Polisi

Dalam penerapannya, digunakan dua rangkaian pipa produksi atau tubing, yakni long string dan short string, dengan ukuran masing-masing 2⅞ inci sebagaimana dijelaskan Anton. Keduanya dipasang menggunakan peralatan khusus agar masing-masing rangkaian dapat menjalankan fungsinya sesuai desain sumur.

Penggunaan dua rangkaian tersebut juga membawa konsekuensi pada aspek pengendalian sumur. Anton menerangkan bahwa konfigurasi ram pada blowout preventer (BOP) perlu disesuaikan untuk menangani dua rangkaian tubing. BOP merupakan salah satu perangkat keselamatan penting untuk mengendalikan tekanan dan mencegah terjadinya semburan sumur yang tidak terkendali.

Karena itu, dual completion tidak dapat diterapkan hanya dengan menambahkan rangkaian pipa. Teknologi ini membutuhkan kajian geologi dan reservoir, perencanaan rekayasa, pemilihan peralatan, serta pertimbangan keselamatan sejak tahap desain.

Menurut Anton, kajian untuk penerapan dual completion di Gunung Kemala berlangsung sekitar satu setengah hingga dua tahun. Waktu tersebut menunjukkan bahwa inovasi di industri migas tidak selalu hadir dalam bentuk perubahan peralatan yang langsung terlihat. Ada proses kajian dan pengambilan keputusan teknis yang harus dilalui sebelum metode tertentu digunakan di lapangan.

Hasil pengujian awal sumur di Struktur Gunung Kemala memberikan gambaran mengenai potensi yang sedang dikembangkan. Sumur GNK-114 dilaporkan mencatat hasil uji alir awal sebesar 5.605,68 barel minyak per hari atau BOPD, dengan gas 2,96 juta kaki kubik standar per hari atau MMSCFD.

Sementara itu, sumur GNK-115 dilaporkan menghasilkan 2.423,29 BOPD dan gas 1,95 MMSCFD dalam pengujian awalnya. Kedua angka tersebut merupakan hasil uji alir awal yang dilaporkan, bukan jaminan bahwa laju produksi akan terus bertahan pada tingkat yang sama setiap hari.

Pembedaan ini penting dalam membaca keberhasilan pengembangan lapangan migas. Hasil pengujian memberikan indikasi mengenai kemampuan sumur menghasilkan minyak dan gas pada kondisi pengujian, sedangkan produksi berkelanjutan harus dinilai berdasarkan data operasi setelah sumur memasuki tahap produksi.

Identitas setiap sumur juga harus dibaca secara cermat. GNK-114 dan GNK-115 merupakan nama sumur yang berbeda. Sumur-sumur tersebut berada dalam rangkaian pengembangan Struktur Gunung Kemala, tetapi data pengujian, status pengerjaan, dan penerapan teknologi masing-masing tidak dapat dipertukarkan begitu saja.

# Baca Juga :  Sabu Hampir 1 Ons Diselundupkan di Celana Dalam, Satresnarkoba Prabumulih Bekuk Dua Pengedar di Kebun Karet

PHR Zona 4 dalam keterangannya pada 15 Oktober 2026 menyebut GNK-115 sebagai sumur pengembangan kedua di Gunung Kemala yang dikerjakan menggunakan metode batch drilling, setelah GNK-114. Perusahaan juga melaporkan 57.288 jam kerja selamat sejak dimulainya pengeboran GNK-115.

Informasi keselamatan tersebut menjadi bagian dari gambaran operasi yang disampaikan perusahaan. Dalam pekerjaan pengeboran, efisiensi tidak semestinya dipisahkan dari pengendalian risiko, sebab perubahan metode kerja tetap harus dilaksanakan dengan memperhatikan prosedur keselamatan dan persyaratan teknis yang berlaku.

Pada akhirnya, inovasi pengeboran tidak hanya dinilai dari seberapa cepat rig dapat berpindah atau seberapa banyak tahapan pekerjaan yang bisa dipangkas. Ukuran keberhasilannya juga terletak pada kemampuan menjaga keselamatan, mengendalikan biaya, mengoptimalkan penggunaan lahan, dan mengembangkan potensi reservoir secara bertanggung jawab.

Pengembangan Gunung Kemala memperlihatkan dua pendekatan dengan fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Batch drilling mengatur bagaimana sejumlah sumur dikerjakan secara lebih terintegrasi, sedangkan dual completion membuka peluang memproduksikan dua zona reservoir melalui satu sumur ketika kondisi teknisnya memungkinkan.

Bagi industri migas, perubahan semacam ini menjadi relevan ketika pengembangan lapangan menuntut perhitungan yang semakin cermat. Bukan semata-mata mengejar pengeboran yang lebih cepat, melainkan mencari cara agar setiap tahapan pekerjaan memberikan hasil yang sebanding dengan sumber daya yang digunakan.

Di Gunung Kemala, angka 71 hari menjadi 55 hari memberi gambaran tentang potensi efisiensi yang dijelaskan Anton. Rencana lima sumur dalam satu klaster menunjukkan arah pengembangan, sementara penyelesaian pekerjaan yang berlangsung bertahap menjadi pengingat bahwa hasil akhir harus dibaca sesuai kondisi aktual di lapangan.

Inovasi pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi yang digunakan, melainkan tentang perubahan cara bekerja dan kemampuan membuktikan manfaatnya. Di tengah kebutuhan menjaga pasokan energi, pendekatan yang menggabungkan efisiensi operasi, ketepatan teknis, dan keselamatan menjadi salah satu jalan untuk mengoptimalkan pengembangan sumber daya migas.

Penulis : Riok