monopolisumselnews | Prabumulih – Hujan turun seperti biasa. Rintiknya mula-mula pelan, lalu berubah deras, menimpa atap-atap rumah di Perumahan Citos, Kelurahan Muara Dua, Kota Prabumulih.
Namun bagi warga di sini, hujan bukan sekadar berkah. Ia adalah tanda tanya. Bahkan kadang, ancaman.
Setiap awan menggelap, lantunan doa mulai terdengar lirih dari balik pintu-pintu rumah.
Warga menengadahkan tangan, memohon agar hujan tak semakin lebat. Bukan karena tak bersyukur, melainkan karena mereka tahu, dua jam saja cukup untuk membuat air masuk ke ruang tamu, merendam lantai, dan mengapungkan kenangan.
“Kalau sudah dua jam hujan deras, kami pasti was-was,” ujar Rian, salah seorang warga. Nada suaranya datar, tapi matanya menyimpan cerita panjang.
“Perabotan banyak yang rusak. Lemari, kasur, bahkan peralatan elektronik. Tidak terhitung lagi.”
Air datang perlahan, lalu menetap. Ia menyusup dari jalan yang lebih rendah, dari drainase yang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Saluran yang dulu dibuat untuk mengalirkan air kini justru menahannya.
Pendangkalan dan kerusakan yang dibiarkan terlalu lama menjadikan drainase seperti urat yang tersumbat—menyebabkan “sesak” di permukiman kecil itu.
Di Citos, hujan bukan hanya menguji ketahanan bangunan, tapi juga kesabaran.
Setiap tahun, proposal pembangunan jalan dan perbaikan drainase dilayangkan.
Surat demi surat dikirim ke Pemerintah Kota Prabumulih dan DPRD. Harapan dibungkus dalam map, disertai tanda tangan dan stempel resmi.
Namun hingga kini, jawaban yang datang tak lebih dari angin lalu.
“Sudah sering kami ajukan. Tapi belum ada kabar pasti,” kata Rian lagi.
Tak ada yang meminta keajaiban. Warga hanya ingin jalan yang layak dan saluran air yang berfungsi. Mereka tak menuntut megah, cukup agar hujan tak lagi menjadi Hantu.
Ironisnya, di negeri tropis yang kaya air ini, warga justru berharap hujan tak turun terlalu lama.
Setiap tetesnya membawa kecemasan. Setiap gemericiknya mengingatkan pada kemungkinan genangan yang kembali datang.
Anak-anak mungkin masih bermain di sela hujan. Tapi orang tua mereka sibuk mengangkat barang ke tempat yang lebih tinggi.
Bau lembap menjadi aroma yang akrab. Dan doa-doa terus dilangitkan, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga seolah ditujukan pada para pemangku kebijakan.
Di Perumahan Citos, waktu berjalan seperti air yang tertahan. Menggenang, tak mengalir.
Warga hanya ingin satu hal sederhana: ketika hujan turun, mereka bisa duduk tenang tanpa rasa cemas. Tanpa perlu menghitung jam. Tanpa perlu menakar tinggi air dengan ujung kaki.
Sebab hujan seharusnya membawa kesejukan, bukan kekhawatiran.






