Relokasi Pasar Beduk PALI Picu Polemik, Pedagang Ngaku Tak Siap Pindah ke Gelora

monopolisumselnews | PALI – Bulan suci Ramadan selalu menjadi momen yang dinanti umat Islam. Selain meningkatkan ibadah, bulan ini juga menjadi harapan bagi pedagang kecil untuk meraup penghasilan tambahan melalui penjualan takjil dan kebutuhan berbuka puasa. Namun di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), kebijakan relokasi pasar beduk dari Terminal Pendopo ke Gelora November justru memicu polemik.

Pemerintah daerah memindahkan lokasi dengan alasan kemacetan di sekitar terminal, khususnya di simpang empat. Namun sejumlah pedagang menilai keputusan tersebut terkesan tergesa-gesa, minim sosialisasi, dan tidak disertai kesiapan fasilitas.

Salah satu pedagang takjil mengaku tetap akan berjualan di Terminal Pendopo karena fasilitas di lokasi baru belum mendukung aktivitas berdagang.

“Kami tetap akan berjualan di terminal karena di Gelora tidak ada listrik. Kami yang jualan minuman seperti Pop Ice sangat bergantung pada listrik. Kalau dipindahkan tanpa fasilitas yang jelas, bagaimana kami bisa cari nafkah?” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan alasan kemacetan yang dijadikan dasar kebijakan. Menurutnya, lonjakan kendaraan saat Ramadan merupakan tradisi tahunan dan terjadi hampir di seluruh ruas jalan, bukan semata karena pasar beduk.

“Kalau alasan macet, hampir semua jalan juga macet saat Ramadan. Ini karena masyarakat antusias mencari takjil. Jangan pedagang kecil yang selalu disalahkan,” tambahnya.

Pedagang lainnya mengungkapkan kekecewaan karena tidak ada pemberitahuan atau dialog sebelumnya. Bahkan, hingga mendekati pelaksanaan, tenda dan sarana pendukung di lokasi baru disebut belum sepenuhnya siap.

“Sebelumnya tidak ada sosialisasi. Tiba-tiba dipindahkan. Tenda saja baru mau didirikan. Kami ini mau cari makan, bukan mau coba-coba tempat,” katanya.

Kondisi ini memunculkan kesan bahwa kebijakan relokasi lebih menitikberatkan pada penertiban daripada solusi komprehensif. Pedagang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada alasan kemacetan, tetapi juga mempertimbangkan dampak ekonomi terhadap pelaku usaha kecil.

# Baca Juga :  Satu Lagi Pemuja Sabu di PALI Masuk Bui

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Rohman S.Pd., M.Pd., saat dikonfirmasi menyatakan bahwa relokasi dilakukan atas saran masyarakat agar tidak terjadi kemacetan di sekitar terminal.

“Relokasi ini atas saran masyarakat agar tidak selalu macet di sekitar terminal, khususnya di simpang empat. Di Gelora lahannya lebih luas dan parkirnya juga luas,” jelasnya, Kamis (19/2/2026).

Meski demikian, sejumlah pihak menilai pemerintah seharusnya memastikan kesiapan infrastruktur terlebih dahulu sebelum menerapkan kebijakan. Tanpa fasilitas memadai dan komunikasi yang baik, relokasi berpotensi menurunkan pendapatan pedagang serta memicu resistensi di lapangan.

Hingga kini, banyak pedagang masih bersikeras bertahan di Terminal Pendopo.