monopolinews.com | Prabumulih – Suhu politik di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Prabumulih kian memanas menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) yang tinggal mengikuti arah jarum jam.
Agenda yang biasanya berjalan normatif kini berubah menjadi panggung pertarungan terbuka. Intrik, lobi, hingga perebutan pengaruh mencuat ke permukaan, menandai kerasnya kontestasi internal partai.
Dinamika ini tak lepas dari konflik lama yang belum sepenuhnya reda. Mulai dari polemik pergantian kepengurusan, perbedaan arah dukungan politik, hingga terbentuknya kubu-kubu di internal partai masih menyisakan gesekan.
“Belum sepenuhnya solid. Tarik-menarik kepentingan masih terasa,” ujar salah satu sumber.
Di tengah situasi tersebut, dua nama mencuat sebagai kandidat kuat, yakni Evi Susanti dan Ahmad Riza Diswan (ARD).
Keduanya saat ini sama-sama duduk di kursi DPRD Kota Prabumulih, sebuah posisi strategis yang memberi keuntungan politik, baik dari sisi akses kekuasaan, jaringan, maupun pengaruh di tengah masyarakat.
Kondisi ini membuat peluang keduanya dinilai lebih terbuka. Bahkan, sejumlah kalangan menilai besar kemungkinan dua nama ini akan mendapatkan restu dari pimpinan partai di tingkat provinsi.
Namun, peta persaingan tidak berhenti di situ. Munculnya kembali Herry Gustiwan justru membuat kontestasi semakin dinamis.
Sebagai mantan Ketua PPP Prabumulih, ia bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga memahami peta kekuatan internal hingga ke level akar rumput.
Dengan jaringan lama yang masih terpelihara, loyalitas kader, serta penguasaan struktur partai, Herry tetap menjadi figur yang harus diperhitungkan serius.
Dalam banyak kasus, faktor pengalaman dan kedekatan dengan struktur justru mampu membalikkan peta dukungan.
“Kalau mantan ketua sudah turun, itu bukan sekadar meramaikan. Biasanya sudah punya basis yang siap bergerak,” ujar pengamat politik lokal.
Muscab sendiri akan ditentukan oleh 13 suara strategis dari berbagai unsur kepengurusan. Dengan jumlah yang terbatas, setiap suara menjadi sangat krusial.
Lobi politik, konsolidasi, hingga manuver di balik layar pun disebut semakin intens dilakukan oleh masing-masing kubu.
Jika dipetakan, pertarungan kali ini mempertemukan tiga kekuatan besar: kekuatan jabatan dan elektabilitas, jaringan politik, serta pengalaman dan kendali struktur.
Ketiganya kini saling berhadapan untuk memperebutkan satu kursi Ketua DPC PPP Prabumulih.
Situasi ini sekaligus menjadi ujian serius bagi soliditas partai. Jika konflik tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa melemahkan kekuatan partai, menggerus kepercayaan publik, hingga memecah kader di akar rumput.
Namun jika mampu disatukan, momentum ini justru berpotensi menjadi titik balik kebangkitan PPP di Prabumulih.
Kini, publik menanti hasil akhirnya.
Apakah Evi Susanti, Ahmad Riza Diswan, atau justru Herry Gustiwan yang akan kembali mengambil kendali?
Yang jelas, Muscab kali ini bukan sekadar pemilihan biasa. Ini adalah pertarungan arah, pengaruh, dan masa depan PPP di Kota Prabumulih.






