monopolinews.com | MUBA – Ratusan massa yang tergabung dari 18 elemen organisasi masyarakat (Ormas), LSM, organisasi profesi, dan tokoh masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menggelar aksi damai sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Aksi damai tersebut berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Sebelumnya, massa aksi telah menyampaikan surat pemberitahuan kepada Polres Musi Banyuasin dan ditembuskan kepada Bupati Musi Banyuasin serta sejumlah OPD terkait.
Massa mulai berkumpul di Stadion Serasan Sekate sejak pagi hari sebelum akhirnya bergerak sekitar pukul 09.00 WIB dengan berjalan kaki menuju Kantor Bupati Musi Banyuasin.
Sepanjang perjalanan, massa secara bergantian menyuarakan aspirasi dan tuntutan masyarakat yang mereka nilai saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari infrastruktur, pelayanan publik, hingga pengelolaan aset daerah.
Setibanya di depan Kantor Bupati, aksi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai simbol semangat perjuangan dan nasionalisme di momentum Hari Kebangkitan Nasional.
Koordinator lapangan sekaligus pemandu aksi, Jahri, kemudian membacakan 18 poin tuntutan yang menjadi aspirasi gabungan massa aksi. Setelah itu, perwakilan dari berbagai Ormas, LSM, organisasi profesi, dan tokoh masyarakat diberikan kesempatan menyampaikan orasi secara bergiliran dengan durasi sekitar 10 menit setiap perwakilan.
Dalam orasi yang disampaikan, sejumlah isu menjadi sorotan utama massa aksi. Di antaranya persoalan Jembatan Lalan yang dinilai belum mendapat penanganan maksimal, keterlambatan TPP ASN, pengelolaan aset milik Pemkab Muba baik bergerak maupun tidak bergerak, hingga buruknya kondisi infrastruktur jalan di sejumlah wilayah.
Tak hanya itu, massa juga menyoroti buruknya pelayanan publik, pengadaan mobil operasional kepala desa, aset infrastruktur yang dibangun dengan anggaran besar namun terbengkalai, minimnya perhatian terhadap simbol sejarah perjuangan daerah, persoalan sampah, hingga menjamurnya kafe di sepanjang jalan lintas Kecamatan Sungai Lilin yang disebut sebagai kampung halaman Wakil Bupati Musi Banyuasin.
Di bawah terik matahari, massa bertahan hampir dua jam menyampaikan aspirasi secara bergantian. Suasana sempat memanas ketika massa membakar ban bekas sebagai bentuk kekecewaan karena Bupati Musi Banyuasin tidak kunjung menemui mereka secara langsung.
Massa aksi berharap Bupati dapat turun dan menerima aspirasi mereka sebagaimana surat permohonan audiensi yang sebelumnya telah disampaikan.
Karena merasa belum mendapat tanggapan, massa akhirnya bergerak masuk hingga ke depan ruang kerja Bupati Musi Banyuasin untuk meminta dialog secara langsung.
Setelah melalui mediasi aparat keamanan, massa akhirnya diterima untuk berdialog oleh Staf Ahli Bupati Iskandar bersama Kasat Pol PP Erdian. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan massa menyerahkan dokumen berisi tuntutan dan aspirasi masyarakat Musi Banyuasin.
Usai aksi, perwakilan massa mengaku kecewa karena Bupati tidak hadir menemui mereka secara langsung. Meski demikian, mereka menegaskan aksi yang dilakukan murni sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi daerah dan demi mendorong terwujudnya program pembangunan Musi Banyuasin yang lebih baik.
“Aksi ini murni bentuk kepedulian kami terhadap pemerintah dan kesejahteraan masyarakat Musi Banyuasin. Apa yang kami sampaikan hari ini adalah masukan demi terwujudnya Muba Maju Lebih Cepat,” ungkap salah satu perwakilan massa aksi.
Laporan : Indra






