Siapa yang Mampu Membawa Golkar Prabumulih Kembali ke Puncak Kejayaan? Empat Nama Mulai Diperbincangkan

monopolinews.com | Prabumulih — Dalam politik, pergantian kepemimpinan bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi ketua. Ada mesin partai yang harus kembali dipanaskan, jaringan kader yang harus dirawat, hingga target elektoral yang harus dibuktikan di bilik suara.

Di Partai Golkar, Musyawarah Daerah (Musda) menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.

Setelah Musda XI DPD Partai Golkar Sumatera Selatan digelar di Hotel Aryaduta Palembang, dengan hasil Andie Dinialdie terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumsel periode 2026–2031, agenda konsolidasi di tingkat kabupaten dan kota di Sumsel mulai bergulir.

Sejumlah Musda telah menghasilkan kepemimpinan baru. Afitni Junaidi Gumay terpilih memimpin Golkar Musi Banyuasin, Netta Indian memimpin Golkar Banyuasin, H. Adriansyah memimpin Golkar Muara Enim, sementara terbaru H. Eftiyani, SH ditetapkan sebagai Ketua Golkar PALI.

Jika mengikuti ritme konsolidasi tersebut, Musda Golkar Prabumulih tinggal menunggu tahapan dan keputusan organisasi.

Pertanyaannya kemudian: siapa yang akan dipercaya memegang kendali Partai Golkar Prabumulih?

Dan yang lebih penting, siapa yang mampu membawa partai berlambang pohon beringin itu kembali ke posisi puncak dalam peta politik Prabumulih?

Catatan Kejayaan Era Ridho Yahya

Membicarakan masa depan Golkar Prabumulih tidak lengkap tanpa melihat catatan masa lalu.

Pada Pemilu Legislatif 2019, ketika Ridho Yahya memimpin DPD Golkar Prabumulih, Golkar berhasil memperoleh empat kursi DPRD Kota Prabumulih, menjadi partai dengan perolehan kursi terbanyak pada saat itu. Empat kader yang terpilih adalah Apriansyah, H. Zainudin, Welizar dan Sutarno.

Empat kursi tersebut bukan sekadar angka. Golkar juga berhasil menempatkan Sutarno sebagai Ketua DPRD Prabumulih periode 2019–2024.

Catatan tersebut menjadi pembanding menarik menjelang Musda.

Sebab setelah pergantian kepemimpinan dari era Ridho Yahya kepada Syamdakir, Golkar tetap mempertahankan eksistensinya di parlemen, tetapi pada Pemilu 2024 perolehan kursinya berada di angka empat kursi, sementara Partai Demokrat menjadi peraih kursi terbanyak dengan lima kursi.

# Baca Juga :  Dukung Program Presiden, Polres Prabumulih Resmikan Dapur Pemenuhan Gizi Pelajar

Dengan demikian, pertanyaan tentang “kejayaan” Golkar Prabumulih bukan hanya soal jumlah kursi, tetapi juga bagaimana partai kembali menjadi kekuatan politik utama di kota ini.

Syamdakir: Pengalaman Memimpin Mesin Partai

Nama Syamdakir Edi Hamid tentu tidak bisa dilepaskan dari bursa kepemimpinan Golkar Prabumulih.

Ia terpilih dalam Musda V Golkar Prabumulih pada Agustus 2020. Saat itu, Syamdakir berhasil merebut kursi Ketua DPD Golkar Prabumulih setelah proses pemilihan yang berlangsung di internal partai.

Syamdakir juga bukan figur yang hanya berada di belakang meja partai.

Pada 2023, ketika Golkar Prabumulih mendaftarkan bacaleg ke KPU, Syamdakir masih tercatat sebagai Ketua DPD Golkar Prabumulih. Saat itu ia menyatakan Golkar menargetkan peningkatan perolehan kursi dan mempertahankan posisi pimpinan DPRD.

Pada Pilkada 2024, Syamdakir bahkan maju sebagai salah satu kandidat kepala daerah. Ia mengambil formulir di sejumlah partai, termasuk Demokrat, PAN dan PDI Perjuangan.

Namanya kemudian berpasangan dengan Andriansyah Fikri dalam Pilkada Prabumulih 2024. Berdasarkan hasil yang ditetapkan KPU, pasangan tersebut memperoleh 18.175 suara.

Namun, ada fakta terbaru yang perlu menjadi catatan. Pada Desember 2025, situs resmi Pemkot Prabumulih menyebut Apriansyah, ST sebagai Ketua Partai Golkar Prabumulih. Artinya, status kepengurusan pasca-periode Syamdakir perlu dipastikan melalui SK atau keputusan resmi partai sebelum Musda 2026.

Welizar: Dua Periode di Parlemen

Nama berikutnya adalah Welizar, SE.

Politisi Golkar ini bukan nama baru dalam politik Prabumulih. Pada Pemilu 2019, Welizar berhasil memperoleh 3.088 suara dan menjadi salah satu dari empat kader Golkar yang mengantarkan partai tersebut meraih empat kursi DPRD.

Pada Pemilu 2024, Welizar kembali terpilih dari Dapil Prabumulih Timur dengan 3.650 suara. Ia menjadi salah satu kader Golkar yang kembali mempertahankan kursi di DPRD.

Pengalamannya sebagai anggota DPRD selama dua periode membuat nama Welizar memiliki rekam jejak elektoral yang cukup panjang.

Pada 2026, setelah rolling alat kelengkapan DPRD, Welizar tercatat sebagai anggota Komisi III DPRD Prabumulih.

# Baca Juga :  187 PHL Prabumulih yang Tidak Lulus Seleksi P3K Tahap 1 Datangi DPRD, Tuntut Pengisian Formasi yang Masih Kosong

Dari sisi perjalanan politik, Welizar membawa modal pengalaman legislatif sekaligus pengalaman memenangkan pertarungan elektoral di dua periode pemilu.

H. Zainudin: Konsisten di Jalur Legislatif

Nama H. Zainudin, SH juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika internal Golkar.

Pada Pemilu 2019, Zainudin terpilih sebagai anggota DPRD Prabumulih dari Golkar dengan perolehan 1.716 suara. Ia kembali terpilih pada Pemilu 2024 dengan 1.561 suara dari Dapil Prabumulih Utara–Cambai.

Artinya, Zainudin telah memiliki pengalaman sebagai anggota DPRD selama dua periode.

Dalam susunan alat kelengkapan DPRD periode 2024–2029, Zainudin sempat dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi I. Setelah rolling AKD pada Mei 2026, ia tercatat sebagai anggota Komisi II.

Nama Zainudin juga pernah masuk dalam daftar bakal calon kepala daerah yang dipanggil DPP Golkar pada momentum Pilkada 2024. Daftar tersebut menunjukkan bahwa namanya pernah dipertimbangkan dalam proses penjaringan politik Golkar untuk Pilkada Prabumulih.

Apriansyah: Nama Lama, Posisi Baru

Nama Apriansyah, ST juga patut diperhitungkan dalam pembacaan bursa.

Apriansyah merupakan salah satu dari empat kader Golkar yang berhasil merebut kursi DPRD Prabumulih pada Pemilu 2019. Saat itu ia memperoleh 1.993 suara.

Pada Pemilu 2024, perolehan suaranya meningkat menjadi 3.094 suara, sekaligus kembali mengantarkannya ke DPRD Prabumulih dari Dapil II.

Pada 2026, Apriansyah dipercaya sebagai Sekretaris Komisi I DPRD Prabumulih setelah rolling alat kelengkapan dewan.

Yang lebih menarik, situs resmi Pemerintah Kota Prabumulih pada Desember 2025 menyebut Apriansyah sebagai Ketua Partai Golkar Prabumulih. Jika informasi tersebut merujuk pada kepengurusan resmi yang berlaku, maka posisinya menjadi penting dalam membaca konfigurasi internal Golkar menjelang Musda.

Sementara itu, kabar mengenai kedekatan Apriansyah dengan Wali Kota Prabumulih H. Arlan perlu ditempatkan sebagai informasi yang belum terkonfirmasi. Belum ditemukan sumber kredibel yang dapat memastikan adanya dukungan politik Arlan kepada Apriansyah untuk kontestasi Ketua Golkar.

Karena itu, dukungan tersebut masih sebatas isu atau kabar politik yang beredar, bukan fakta yang dapat ditulis sebagai keputusan politik.

# Baca Juga :  Hendak Edarkan Narkoba, Warda Lesmana Kembali Ditangkap dengan Tiga Paket Sabu

Empat Nama, Satu Kursi

Jika keempat nama tersebut benar-benar masuk dalam dinamika Musda, maka Golkar Prabumulih menghadapi kontestasi dengan latar belakang yang berbeda.

Syamdakir membawa pengalaman memimpin DPD dan pernah menjadi kandidat dalam Pilkada.

Welizar membawa pengalaman dua periode di DPRD serta catatan perolehan suara yang relatif tinggi dalam dua Pemilu terakhir.

Zainudin memiliki pengalaman dua periode sebagai anggota legislatif dan pernah memegang posisi dalam alat kelengkapan DPRD.

Sementara Apriansyah memiliki pengalaman dua periode di parlemen dan, berdasarkan sumber resmi Pemkot Prabumulih, kini disebut sebagai Ketua Partai Golkar Prabumulih.

Namun politik internal partai tidak sesederhana menghitung jumlah suara Pileg.

Musda memiliki mekanisme dan pemilik suara tersendiri. Dukungan PAC, struktur partai, organisasi sayap, komunikasi dengan DPD Golkar Sumsel serta arah konsolidasi internal akan menjadi bagian penting dalam menentukan konfigurasi Musda.

Kembali ke Puncak atau Mempertahankan Posisi?

Golkar Prabumulih pernah menikmati posisi sebagai partai dengan perolehan kursi terbanyak pada Pemilu 2019, dengan empat kursi DPRD dan kadernya menduduki kursi Ketua DPRD.

Lima tahun kemudian, Golkar masih memiliki empat kursi DPRD periode 2024–2029, tetapi bukan lagi partai dengan jumlah kursi terbanyak karena Demokrat memperoleh lima kursi.

Di titik inilah Musda menjadi menarik.

Bukan semata tentang siapa yang mendapatkan kursi Ketua DPD Golkar Prabumulih, tetapi siapa yang mampu membangun kembali konsolidasi organisasi, mempertahankan basis pemilih, memperkuat kaderisasi dan mengembalikan posisi Golkar sebagai salah satu kekuatan utama dalam politik Prabumulih.

Empat nama boleh disebut dalam percakapan politik.

Tetapi sampai ada tahapan resmi Musda, belum ada yang bisa disebut sebagai calon resmi ataupun kandidat terkuat.

Sebab dalam politik, nama yang ramai dibicarakan belum tentu nama yang akhirnya berdiri di depan forum Musda.

Dan ketika palu Musda diketuk, kalkulasi politik biasanya baru benar-benar dimulai.