monopolinews.com | MUBA – Kondisi Jembatan Sungai Suban yang menghubungkan jalan poros Kecamatan Sungai Keruh menuju Desa Sungai Dua, Kabupaten Musi Banyuasin, kian memprihatinkan. Lantai jembatan dilaporkan ambrol, sementara tiang penyangga mulai miring, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas.
Pantauan pada Sabtu (25/4/2026), sejumlah papan lantai jembatan kayu tampak lapuk dan patah. Sebuah lubang menganga selebar sekitar 50 sentimeter terlihat di bagian tengah jembatan. Selain itu, besi pengaman di sisi jembatan sudah hilang, menambah risiko kecelakaan, terutama saat malam hari.
Kendaraan seperti mobil pickup dan truk pengangkut hasil kebun terpaksa antre dan melintas secara bergantian dengan kecepatan sangat rendah. Bahkan, para sopir harus turun untuk memastikan roda kendaraan tidak terperosok. Sementara itu, pengendara sepeda motor memilih turun dan menuntun kendaraannya demi keselamatan.
“Jembatan ini satu-satunya akses cepat warga Sungai Dua ke Pasar Sungai Keruh dan Puskesmas. Kalau harus memutar lewat desa lain, jaraknya bisa sampai 15 kilometer. Sekarang mobil tidak berani membawa muatan penuh karena khawatir jembatan ambruk,” ungkap Firman (41), sopir pickup asal Sungai Dua.
Warga menyebutkan, kerusakan jembatan sudah terjadi sejak awal 2025 pascabanjir besar Sungai Suban. Upaya perbaikan darurat secara swadaya dengan menambal papan hanya mampu bertahan selama dua hingga tiga bulan.
“Sudah dilaporkan ke kepala desa, katanya sudah diteruskan ke kecamatan dan Dinas PUPR. Namun sampai sekarang belum ada perbaikan permanen,” tambah Firman.
Kepala Desa Sungai Dua, Sudirman, membenarkan kondisi jembatan yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut jembatan tersebut merupakan kewenangan pemerintah kabupaten.
“Usulan rehabilitasi total sudah kami ajukan melalui Musrenbang Kecamatan 2025 dan langsung ke Dinas PUPR Muba. Informasinya masuk program DAK 2026, tetapi belum jelas kapan realisasinya,” jelasnya.
Ia juga mengkhawatirkan keselamatan warga, khususnya para pelajar yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.
“Anak-anak SD dan SMP setiap hari lewat sini. Kalau jembatan ambruk saat mereka melintas, tentu sangat berbahaya,” ujarnya.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin segera melakukan perbaikan permanen dengan mengganti jembatan kayu menjadi jembatan beton.
“Sudah puluhan tahun jembatan ini berbahan kayu. Setiap banjir rusak lagi. Dengan APBD yang besar, seharusnya pembangunan jembatan beton sepanjang 15 meter bukan hal sulit,” kata Rohaya (52), pedagang sayur setempat.
Warga juga meminta pemasangan rambu peringatan serta pembatas tonase untuk mencegah kendaraan berat melintas sebelum perbaikan dilakukan.
“Sekarang truk sawit masih nekat lewat. Kalau jembatan benar-benar ambruk, desa kami bisa terisolasi,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak UPTD PUPR Wilayah Sungai Keruh maupun Bidang Bina Marga Dinas PUPR Muba belum memberikan tanggapan. Pesan konfirmasi yang dikirimkan belum mendapat respons.
Laporan: Indra






